Aku meletakkannya di lembaran buku yang telah tertutup. Sekian lama kita perang dingin. Ada jarak yang tak tegas tapi kita saling membatasi diri tuk saling tak mendekat. Hingga akhirnya. Pada suatu saat. Dia singgah di kotaku. Bertatap muka dengannya, setelah sekian lama aku membencinya. Aku membenci dengan alasan yang tak bisa ku jabarkan. Aku kadang bertanya-tanya sendiri. Apa yang membuat aku benci dia setengah mati. Tapi tetap saja aku tak menemukan jawabnya. Entah. Hanya membencinya. Segala apa yang ada di dirinya. Segala apa yang dia lakukan atau katakan. Aku membencinya. Itu saja.

Ketika aku memandang senyumnya. Ada debar halus yang menghangatkan juga meresahkan. Sekuat tenaga aku mengontrol segala indera dengan seksama. Sebelnya tuh orang malah lama-lama ngelihatin aku. Aku pun memutuskan untuk segera meninggalkannya. Daripada wajah ini terlanjur merona. Dan sisa hari itu aku habiskan hanya dengan tersenyum sambil mengingat senyum dan suaranya. Aah apakah ini?

Dan kepulangannya. Bikin aku resah gelisah gundah gulana. Menjelang keberangkatan ke bandara mendung mulai datang. Padahal pesawat akan berangkat 1 jam lagi. Wadyuh. Mendung begini di pesawat. Ada debar asing yang merambat pelan dan pasti. Kebetulan di kantor aku duduk dekat jendela. Sebentar-sebentar aku melihat jendela. Awan hitam semakin bergulung-gulung menyeramkan. Duh. Bagaimana dengan bandara ya. Ingin banget telfon. Ingin tahu bagaimana keadaannya. Tapi gengsi tiba-tiba menjulang setinggi pohon kelapa. Walhasil. HP cuman digenggam erat di tangan sambil khusuk duduk depan jendela memandang awan yang menghitam. Dada berdebar keras sementara bibir tak henti melamatkan doa untuk keselamatannya. Dan gengsi pun melambung semakin tinggi. Masak aku duluan sih. Aku benar-benar berharap agar dia yang mengirimkan SMS atau telfon untuk kasih tahu keadaannya. Sebentar-sebentar aku melirik jam tangan. Sudah hampir 1 jam. Menit-menit mendekati take off. Perasaan semakin tidak karuan. Antara cemas, sebel juga pasrah. Entah bagaimana gengsi bisa turun dengan cepat. Aku mengetik keypad.

Udah dbandara? Ujan deres gak disana?

Aku langsung milih send dengan cepat. Daripada ntar tiba-tiba berubah pikiran.

Udah nih. Ujan deres. Pesawat delay 2 jam

Waks. Hampir loncat waktu melihat namanya tertulis sedetik setelah nada SMS terdengar. Cepat amat balesnya. Kitapun SMSan beberapa kali. Entah ada angin apa tiba-tiba jariku menekan deretan angka yang masih saya ingat di luar kepala. Dalam hitungan detik sudah tersambung. Terdengar suara yang membuat tangan ini semakin dingin. Juga debaran yang semakin kuat. Kami berbincang banyak hal tentang pekerjaan. Juga banyak hal yang membuat kita tertawa cekikikan. Cuaca begini buruk. Aku gak tau bagaimana dia nanti selama perjalanan ke kotanya. Meski hanya 1 jam di udara. Tapi banyak hal yang bisa terjadi dalam waktu sesingkat itu. Aku melafalkan doa istimewa untuknya. Aku ingin Allah menjaga dia hingga mendarat nanti. Kalaupun ada apa-apa selama di udara. Aku ingin percakapan ini meninggalkan kesan mendalam untukku –dan semoga juga untuk dia-. Aku ingin dia tahu bahwa aku sudah tidak marah lagi padanya. Aku ingin dia tahu bahwa aku senang berdekatan lagi dengannya. Aku juga ingin dia tahu kalau aku selalu suka mendengar ketawanya yang khas. Bahkan aku juga suka perutnya yang berguncang-guncnag kalau dia tertawa lepas. Kami baru berhenti ngobrol ketika ada panggilan untuk masuk pesawat.

Aku udah dpesawat. Sekali lagi makasih ya. Udah nemenin. Bantuin beliin oleh-oleh juga.

Sebuah SMS tiba-tiba masuk. Aah… Andai dia tahu. Everything I do. I do it for him. Aah sudah lah. Dia juga gak bakal tahu. Langit sudah cerah. Aku memandang langit dengan tenang. Dia akan baik-baik saja di atas sana.

Malam sudah menjelang aku diliputi perasaan cemas kembali. Tidak ada kabar darinya. Sudah mendaratkah? Ataukah ada masalah dengan pesawatnya? Gengsi lagi-lagi melambung tinggi. Masak aku duluan sih SMS. Ntar dia ke-GR-an lagi. Aku mondar mandir di rumah kayak ayam betina mo bertelor. Huaaa gemes. Mo SMS gengsi. Gak SMS aku kok kebat kebit gak keruan. Setelah merenung sambil melihat langit gelap ampe kepala pening. Akhirnya aku pun menyerah. Akupun menekan keypad singkat.

Udah sampe?

Tidak sampai satu menit balasan sudah masuk. Lengkap. Laporan kedatangan, jam berapa pesawat landing hingga sekarang posisi udah dimana. Syukurlah. Dia sudah tiba dengan selamat. Segala kebat kebit dan dag dig dug hilang semua. HAH. Bentar dulu. Ngapain aku ampe segitunya. Aku kan hanya menganggap dia selama ini sebagai teman biasa. Dia hanya kuanggap sebagai kakak saja. Gak lebih. Oya? Gak lebih? Tapi kenapa aku… hmm… aah. Aku terdiam cukup lama. Apakah aku berlebihan bersikap begini sebagai seorang teman? Apakah aku salah memperlakukan dia hanya sebagai seorang kakak? Apakah? Hmm… Apakah ini? Entahlah. Hingga detik ini. Berbulan-bulan setelah berlalu. Saya masih saja bertanya dalam diam dan menanti jawaban dalam keheningan malam.

Maret 7th, 2009 at 09:34 and tagged  | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Aku hampir lupa kalau punya blog di detik.

Pas lihat ada lomba writing blog detik baru keingetan. Lah aku kan punya blog juga di detik. ikutan lomba aah. Biar bisa jalan-jalan gratis hehe

Maret 3rd, 2009 at 09:29 | Comments & Trackbacks (1) | Permalink